Saat sedang bermain computer game bertema strategi atau peperangan seperti Battlefield atau Call of Duty, saya selalu berkhayal andaikata saja TNI kita memiliki peralatan tempur secanggih itu, tentu asyik. Mulai dari pesawat tempur, tank, kapal perang hingga peralatan tempur perorangan untuk infanteri, akan menjadikan TNI sebagai angkatan bersenjata yang disegani. Bahkan sebenarnya bukan sekedar angkatan bersenjata saja, melainkan juga angkatan perang. Artinya, bila sewaktu-waktu negara kita diserang oleh musuh dari luar, kita siap menghadapinya.
TNI terdiri dari 3 matra atau angkatan, yaitu Darat, Laut dan Udara. Perlu diketahui bahwa meskipun terlihat alami, namun tidak semua angkatan bersenjata di planet ini memiliki 3 matra. Ada negara yang tidak memiliki laut sehingga tak memiliki angkatan laut. Ada pula yang karena terlalu miskin sehingga hanya punya angkatan darat saja. Hal itu karena alat utama sistem persenjataan (alutsista-istilah TNI untuk peralatan tempur) matra udara dan laut tergolong mahal.
Namanya juga mimpi, tentu bisa seindah mungkin. Maka apa yang saya tuliskan di sini boleh dianggap sebagai masukan, namun juga boleh dianggap sekedar angan-angan. Karena saya sekedar pehobi militer dan bukan anggota militer. Seorang gamers yang juga memiliki beberapa air soft gun serta gemar mengkoleksi dan membaca buku-majalah kemiliteran. Jadi referensi saya campur-aduk dari dunia khayali dan data faktual. Tidak ada teori atau rujukan ilmiah dalam menentukan postur ideal ini. Semata ini adalah impian sebagai “hak prerogatif” saya semata.
Saat ini jumlah kekuatan personel TNI dari ketiga matra hanya sekitar 200.000 orang. Mengingat penduduk Indonesia berjumlah kurang lebih 230.000.000 orang, bagi saya idealnya jumlah anggota TNI adalah 1 %-nya. Berarti, seharusnya jumlah anggotanya 2.300.000 atau 2,3 juta orang. Namun, tidak perlu seluruhnya anggota aktif karena akan menghabiskan anggaran negara. Cukup 300 ribunya yang aktif, sementara 2 juta orang adalah unsur cadangan terlatih yang siap digunakan kapan saja. Mereka ini bisa dimasukkan dalam Garda Nasional, meniru National Guard-nya A.S.
Untuk TNI AD, selama ini kita mengedepankan kuat personel. Persenjataan infanteri menggunakan beberapa jenis senapan serbu. Ada FNC buatan Belgia, ada M-16-A1 buatan Amerika Serikat, namun kita juga memproduksi sendiri SS-1 dan SS-2 buatan Pindad. SS adalah pengembangan dari lisensi FNC. Alangkah baiknya untuk pasukan elit seperti Kopassus dan Kotama seperti Kostrad dilengkapi dengan senapan serbu yang lebih canggih. Pilihannya banyak. Bisa M-4 Carbine atau AR-15 buatan Amerika Serikat, Steyr buatan Israel, atau Heckler & Koch MP-5 buatan Jerman.
Selain persenjataan infanteri atau personel, TNI AD seharusnya juga memiliki tank tempur utama atau dikenal sebagai MBT (Main Battle Tank). Sejak Indonesia merdeka hingga sekarang, kita belum pernah memilikinya. Ada beberapa tank terkenal seperti M-1 Abrams dari A.S., Merkava dari Israel, Leclerc dari Prancis atau Leopard dari Jerman. Masing-masing punya keunggulan dan kelemahan tersendiri. Namun, semua tank itu keluaran negara maju atau setidaknya maju industri persenjataannya. Karena itu harganya mahal. Sebagai alternatif kita bisa melirik K-1-A-1 atau K-2 Black Panther buatan Korea Selatan atau tank buatan India.

TNI AD juga tidak memiliki persenjataan pemusnah massal yang memadai. Maksudnya tentu bukan yang terlarang seperti senjata kimia atau biologi, namun yang mampu memberikan kehancuran massif bagi musuh. Sebutlah seperti rudal atau missile. Bahkan ranpur MLRS (Multiple Launch Rocket System) saja masih peninggalan era Soekarno, yaitu RM-70 Grad buatan Uni Sovyet. Memang, rencananya kita akan membeli yang baru, tapi masih buatan sesama negara berkembang yaitu Polandia. Padahal, ada banyak tipe MLRS di dunia dan tentunya yang handal adalah buatan negara maju. Antara lain adalah M-270 buatan pabrikan L-3 dari Amerika Serikat.
Rudal darat ke udara sejenis SAM (Surface to Air Missile) pun minim. Tak heran bila pesawat asing mudah menerobos sistem pertahanan udara kita. Rudal jenis ini bisa dioperasikan oleh TNI AD atau TNI AU sebagai bagian dari Arhanud (Artileri Pertahanan Udara). Sementara jenis artileri lain seperti artileri medan pun masih terbatas pada jenis meriam atau kanon. Padahal andaikata kita memiliki howitzer daya penggentarnya jelas akan berbeda. TNI AD juga saya bayangkan mengakuisisi Humvee. Ini adalah varian militer dari jeep Hummer yang telah diadopsi luas oleh seluruh matra Angkatan Bersenjata A.S.
Untuk kekuatan di laut, TNI AL seharusnya memiliki dua kapal induk (aircraft carrier). Ini sesuai dengan strategi pertahanan kita yang membagi wilayah laut menjadi dua: Armada Barat dan Timur. Selain itu juga idealnya diperbanyak kapal angkut berkapasitas besar, yang bisa berguna sebagai bantuan saat terjadi bencana alam atau hari raya Idul Fitri. Kapal selam termasuk yang bertipe mampu meluncurkan rudal balistik juga idealnya dimiliki. Demikian pula dengan kapal perang jenis penjelajah (cruiser). Rudal laut sekelas Exocet atau yang lebih canggih pun seharusnya diperbanyak.
TNI AU adalah khayalan tertinggi saya. Karena saat ini negara yang memiliki keunggulan di udara (air superiority) sudah pasti akan ditakuti. Amerika Serikat dan Uni Sovyet di masa Perang Dingin berlomba menguasai udara, bahkan jauh hingga ke angkasa luar. Namun kini, A.S. seakan melaju sendirian sebagai penguasa dunia. Banyak sekali pesawat unggulan yang masih jadi mimpi belaka bagi kita untuk mengakuisisinya. Sebutlah seperti F-22 dan F-23 milik A.S. Atau JSF yang dikembangkan bersama oleh sejumlah negara Eropa. Namun sebenarnya ada yang terjangkau. Sebutlah F-16 Fighting Falcon varian terbaru yaitu Block 52, F/A-18 Super Eagle, Raffault Dassale, atau Eurofighter Typhoon.
Sudah waktunya juga TNI AU memiliki pesawat tanpa awak atau UAV (Unmaned Aerial Vehicle). UAV ini bisa untuk pengintaian, survei atau peran tempur sekaligus. Untuk pengintaian, mengingat wilayah udara kita yang luas, kita juga layak memiliki pesawat pengintai utama sekelas AWACS (Airborne Warning And Control System). Pesawat ini bisa meng-cover kebutuhan kita pada pemantauan terutama di wilayah Indonesia Timur yang terdapat radar hole. Mengakuisisi sejumlah helikopter militer juga penting. Mulai dari yang bertipe serang seperti Mi-24 Hind hingga yang bertipe angkut seperti CH-47 Chinook.
Bahkan, seharusnya kita juga berhak memiliki senjata nuklir. Ini berdasarkan pertimbangan luas negara dan jumlah penduduk. Di Asia, negara seperti India dan Pakistan saja memilikinya. Kita yang merupakan sekutu Amerika Serikat dan pemimpin ASEAN seharusnya juga memilikinya. Untuk moda pembawa senjatanya, tentu kita harus memiliki ICBM (Inter Continental Ballistic Missile).Bila kelak kita bisa mengembangkan senjata nuklir, tentu juga harus ada imbangan untuk tujuan damainya. Antara lain adalah untuk keperluan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir).
Demikianlah kira-kira postur ideal TNI kita. Semoga saja kelak bisa terwujud di saat negara kita menjadi negara maju. Aamiin.
Artikel ini semula di-posting di website LifeSchool-Indonesia pada 5 Oktober 2011.
Tags: AD, AL, alutsista, AU, ICBM, kapal, MBT, militer, MLRS, perang, pesawat, tank, TNI

